INTERELASI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM


  1. Latar Belakang Masalah
Layaknya sebuah rumah, bila dibangun tanpa tiang penyangga tak akan tegak berdiri. Demikian pula dengan Pendidikan Islam, haruslah memiliki pilar-pilar yang mampu menopang struktur keilmuannya sekaligus menjadi ciri khas dan identitasnya, sehingga satu bangunan rumah keilmuan dapat dibedakan dari bangunan lainnya. Pilar utama bagi pendidikan islam dimaksud adalah berpusat pada Tauhid berbasis akhlak. Pilar-pilar ini saling bertautan satu sama lain lalu merangkai dalam bentuk bilik bilik peradapan teks (hadharah an-nash), peradapan ilmu (hadharah al-’ilmu, dan peradapan falsafah (hadharah al-falsafah), sehingga terbentuk bangunan pendidikan islam yang kokoh.
Selain Ilmu Tauhid dan Akhlaq, salah satu penopang islam dan keilmuaannya adalah ilmu fiqih, karena fiqih merupakan dasar untuk mendapat hukum.
Dari latar belakang masalah tersebut, tersusunlah Rumusan Masalah sebagai berikut :
  1. Bagaimana interelasi ilmu tauhid, dengan filsafat pendidikan islam?
  2. Bagaimana interelasi ilmu akhlaq dengan filsafat pendidikan islam?
BAB II
PEMBAHASAN
  1. Interelasi ilmu tauhid dengan filsafat pendidikan islam
Kata interelasi dalam KBBI mempunyai arti hubungan satu sama lain. Dalam hal ini (filsafat pendidikan islam) berarti hubungan antara ilmu islam dengan pendidikan islam, yang juga bisa dikatakan dengan filsafat ilmu islam, tapi dalam pembahasan pendidikan.
Dalam bahasa arab tauhid berarti beriman kepada keesaan tuhan, keesaan Allah. Iman juga berarti pengetahuan, percaya, dan yakin tanpa keraguan.
Abd. Rohman Assegah menjelaskan dalam bukunya, bahwa; proses terbentuknya iman dalam diri seseorang didahului oleh pengetahuan (knowledge) sesorang tentang sang pencipta jagad raya ini, yakni Allah Swt. Artinya iman itu dapat diperoleh lewat proses berpikir, perenungan mendalam, survei atau penelitian terhadap alam semesta.1
Seperti yang telah nabi ibrahim lakukan, Nabi Ibrahim bertanya-tanya darimana datangnya manusia, siapa yang menciptakan bumi, kemudian melakukan observasi dan penelitian untuk mengetahui siapa tuhannya sebenarnya. Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Ali-‘Imran: 190-191).
Faktor pendidikan bagi terbentuknya tauhid dan iman kepada Allah Swt Ini merupakan inti dari pendidikan islam, sedemikian pentingnya sehingga Nabi Muhammad Saw. Menyatakan : “Barangsiapa tambah ilmunya tapi tidak tambah petunjuknya (imannya), maka bagi Allah Swt, orang tersebut tidak tambah apa pun kecuali semakin jauh (dari petunjuk dan iman kepadaNya)”.2
Dalam filsafat pendidikan islam, tujuan pendidikan islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam islam, “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (QS. Adz-Zariat: 56). Tujuan manusia hidup adalah untuk menyembah Allah, maka dari itu dibutuhkan ilmu untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan​ janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. Ali Imron: 102). Dan tugas ilmu tauhid adalah menjaga iman supaya meninggal dalam keadaan islam. Bagaimana mungkin tujuan pendidikan islam dapat terlaksana, sedang yang dididik tidak mentauhidakan Allah Swt.
  1. Interelasi ilmu Akhlaq dengan filsafat pendidikan islam
Akhlaq adalah jamak dari khuluq yang berati adat kebiasaan (al-adat), perangai, tabiat (al-sajiyyat), watak (al-thab), adab/sopan santun (al-muru’at), dan agam (al-din). Menurut para ahli masa lalu (al-qudama), akhlaq asalah kemampuan jiwa untuk melahirkan suatu perbuatan secara spontan, tanpa pemikiran atau pemaksaan. Sering pula yang dimaksud akhlaq adalah semua [erbuatan yang lahir atas dorongan jiwa berupa perbuatan baik atau buruk.3
Hal utama diutusnya nabi Muhammad Saw selain untuk menyiarkan ketauhidan Allah, juga untuk menyempurnakan akhlaq umat. Dimana kedua hal ini saling berkaitan tidak bisa terpisahkan. Hal ini tercermin dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam albukhari. “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik”. Yang berarti, inti dari beriman kepada Allah adalah akhlaq yang baik, karena seberapa baik akhlaq kita mencerminkan seberapa kuat iman kita. Dan tentu, untuk mewujudkan akhlaq yang baik pada tiap tiap pribadi umat islam dibutuhkan pendidikann akhlaq dan pemahaman akhlaq sejak dini, sebagai pondasi dari keyakian terhadap agama islam.
Menurut prof. DR. Suwito dalam bukunya yang berjudul; Filsafat Pendidikan Akhlaq, menjelaskan, bahwa; hakikat pendidikan akhlaq adalah inti pendidikan semua jenis pendidikan, karena ia mengarahkan pada terciptanya perilaku lahir dan batin manusia sehingga menjadi manusia yang seimbang dalam arti terhadap dirinya maupun terhadap luar dirinya. Dengan demikian, pendekatan pendidikan akhlaq bukan monolitik dalam pengertian harus menjadi nama bagi suatu mata pelajaran atau lembaga, melainkan terintegrasi kedalam berbagai mata pelajaran atau lembaga.(Suwito, 2004: 38)

1 Abd. Rahman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam: Paradigma Baru pendidikan hadhari, (jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 38.
2 Abd. Rahman Assegaf, Filsafat Pendidikan Islam: Paradigma Baru pendidikan hadhari, (jakarta: Rajawali Pers, 2011), hlm. 39.
3 Suwito, Filsafat Pendidikan Akhlak, (Yogyakarta: Belukar, 2004), hlm. 31.

>>> By :  Khikmatus Sa’adah , Solichah

0 comments: